April 2006


stand phaprosDalam mengorganisasi suatu pameran perlu dipikirkan pintu keluar masuknya pengunjung, terbukti dengan pameran Inacraf yang baru saja dilaksanakan di Balai Sidang Jakarta, JCC.Kecuali ruang Cendrawasih ,semua ruangan yg ada di JCC dijadikan ruang pameran,besar sekali area pamerannya.Bermasalah.

Kami membawa 5 mitra binaan, Nining Colection, Lia Galery, Setara dan Nadira Collection serta Defada, ikut serta pameran. Pameran dari tanggal 19 April s/d 23 April, dua hari terakhir saja yang ramai oleh pengunjung.Hari pertama sampai hari ketiga sepi.Dua hari terakhir ramai karena kami bersama dengan BUMN yang lain mengultimatum pihak panitia, kalau lokasi assembly masih saja sepi,sore itu juga sepakat untuk tutup stand. Lokasi stand Mitra Binaan BUMN jadi satu di Assembly yang jumlahnya hampir dua ratusan.Boleh dikata hari pertama sampai ketiga cuma pada nepukin nyamuk aja (ada gak sih di JCC nyamuknya..? ). Sangat ironis jika dibanding lokasi stand Hall A atau Hall B sudah ramai sekali pengunjung sejak dibuka untuk umum, di Assembly penjaga standnya cuma pada ngantuk-ngantuk saja.Sepi.

Kekuatan tawar BUMN ampuh juga ultimatumnya,panitia penyelenggara jiper langsung tanggap.Siang itu juga ada perubahan layout pintu penjualan tiket dan masuk.Yang tadinya Assembly sebagai pintu keluar,dirubah menjadi pintu masuk.Malamnya sudah mulai banyak pengunjung ke Assembly.Dua hari terakhir baru ramai pengunjung.

Sebenarnya tahun lalu kejadian seperti itu sudah terjadi,cuma waktu itu Assembly khusus kerajinan batik saja dan mereka adalah penyewa stand individu,jadi tidak punya power untuk menekan penyelenggara.Kalau BUMN sekali pesan tempat minimal 2 stand bahkan ada yang sewa sampai 32 stand dan stand untuk BUMN lebih tinggi tarif harga sewanya.

Dengan kejadian seperti ini,akhirnya penyelenggaraan tahun 2007 Assembly tidak diperuntukan menjadi ruang pamer ,cuma sebagai tempat pembukaan saja.

miniatur becakcollection Nadiraminiatur spedacollection Defada 

Pengucuran dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan ( PKBL ) sebesar Rp.350 juta kepada 10 usaha kecil dan Menengah ( UKM )diruang Avicena ,besaran bantuan dana bervariasi,sesuai dengan pengajun dan kemampuan.Sejak program ini diadakan pada 1997,hingga kini total dana yang sudah digulirkan mencapai Rp 3,3 Miliar yang diterima oleh 165 UKM. Untuk tahun ini,Phapros menargetkan alokasi dana mencapai Rp.1,8 Miliar yang akan dikucurkan secara bertahap.Dana bantuan tersebut optimis bisa dikembangkan, melihat sifat ketahan UKM dalam menghadapi situasi ekonomi yang memburuk. Disamping memberikan pembinaan yang meliputi pendanaan,pendampingan manajemen, dan pemasaran, program ini juga berupaya untuk mengembangkan aspek sosial dan bisnis.
Anda berminat jadi mitra kami…?