

Selly Widyawati
Ingin Bordir Kudus Go Public
Agar lebih bisa diterima pasar, Selly ‘memoles’ bordir Kudus dengan desain yang lebih beragam serta warna-warna lembut.
Bicara tentang kerajinan bordir, yang segera terbayang adalah bordir Tasikmalaya yang cantik menawan itu. Padahal di Nusantara ini, kerajinan bordir tak cuma ada di Tasikmalaya. Di Kudus misalnya, cukup banyak tangan terampil yang mampu membuat kerajinan indah ini.
Hanya saja, bordir Kudus memang tak sekondang bordir Tasikmalaya. Fakta inilah salah satunya yang memacu semangat Selly Widyawati untuk mempromosikan bordir Kudus agar dikenal di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Maka, meski tak pernah dicita-citakan, Selly akhirnya menerjuni bisnis bordir, khususnya bordir Kudus, dengan Citra Istana sebagai nama dagang yang ia pilih untuk produk-produknya.
Walau tak pernah bercita-cita menjadi pengusaha bordir, sejatinya dunia bordir bukan sesuatu yang asing bagi Selly. Maklum, ibundanya, Hj Intan Rosjidah pernah memiliki usaha bordir. Saat itu, kerajinan bordir yang diproduksi sang ibu, hanya dijual di wilayah Kudus. Tak cuma Hj Intan. Sebetulnya, cukup banyak warga Kudus yang memiliki usaha bordir, utamanya di daerah Jenggala yang merupakan sentra bordir Kudus. Sayangnya, mereka hanya menjual produknya di Kudus, sehingga orang yang mau membeli bordir Kudus harus datang ke kota kretek ini.
Selly sangat menyayangkan hal itu. Sebab, menurutnya, bordir Kudus memiliki kualitas yang bagus. ”Membordirnya menggunakan mesin jahit biasa sehingga lebih rapi dibandingkan bila menggunakan mesin khusus bordir,” ucap sarjana hubungan internasional dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta ini.
Keinginan untuk mengembangkan bordir Kudus mulai membuncah di benak Selly setelah ia lulus dari UPN pada 1999. ”Saya ingin bordir Kudus tidak hanya dikenal di Kudus,” kata wanita yang juga menggenggam ijazah D3 Public Relation dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini. Berangkat dari keinginan ini, Selly pun mulai mempromosikan bordir Kudus dengan mengikuti berbagai pameran, baik di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta, bahkan luar Jawa seperti Pontianak, Lampung, dan Makassar.
Selain itu, Selly pun berusaha ‘memoles’ bordir Kudus agar lebih bisa diterima pasar, dengan cara memberi sentuhan desain yang lebih beragam dan penggunaan warna-warna yang lebih lembut. Asal tahu saja, bordir Kudus umumnya tampil dengan warna-warna ngejreng yang mencolok mata. Desainnya juga masih sederhana.
Selly juga menganekaragamkan jenis kain yang dipakai. Jika sebelumnya bordir Kudus hampir selalu dibuat di atas kain siffon, maka Selly menggunakan beragam kain seperti sutera, katun, dan lain-lain, mengikuti tren pasar. Dan tak cuma untuk busana, Selly pun memproduksi kerajinan bordir dalam bentuk tas, aneka macam cenderamata, tempat tissue, juga tatakan dan tutup gelas. Upaya Selly agaknya tak sia-sia. Setelah mengambilalih usaha bordir sang ibu dan menggelar promosi sekitar dua tahun, Selly melihat, bordir Kudus mulai dikenal luas. Tak hanya di Indonesia, bordir Kudus juga telah merambah ke manca negara. Selly misalnya, memiliki pembeli tetap dari Malaysia. Selain itu, ada juga pembeli tidak tetap dari India dan Jepang.
Bisa dipelajari
Mengangkat bordir Kudus memang merupakan cita-citanya. Namun, Selly juga punya keinginan lain yakni meningkatkan pendapatan para pekerja bordir, setidaknya sesuai dengan Upah Minimum Regional. Dulu, cerita Selly, banyak pembordir pindah kerja ke pabrik rokok yang menjanjikan penghasilan lebih tinggi. ”Tapi sekarang, pendapatan pembordir dan pekerja pabrik hampir sama, karena kami berupaya untuk memberikan tambahan upah untuk makan dan transport. Sekarang mulai banyak orang Kudus yang kembali menjadi pembordir,” tuturnya. Selly sendiri kini mempekerjakan 50 orang karyawan. Padahal ketika memulai usaha ini, ia hanya dibantu oleh enam orang karyawan.
Soal kepiawaian membordir, istri dari Teddy Arwiyanto ini menyatakan, hal itu bisa dipelajari. Ia dan sang suami misalnya, terhitung belum lama belajar membordir. Tapi nyatanya, pasangan ini sudah bisa menciptakan beragam desain bordir yang cantik dan disukai pasar. ”Seni itu bisa dipelajari,” cetus wanita pengusaha yang kini menjadi mitra binaan PT Phapros Tbk ini. Kini, Selly boleh berbangga. Kerajinan bordir Kudus karyanya telah dikenal luas dan diminati banyak orang, termasuk para istri pejabat dan artis. Bagaimana dengan harga? Cukup bervariasi. Aneka produk bordir berlabel Citra Istana bisa diperoleh dengan harga mulai Rp 50 ribu sampai Rp 1 juta. nri
Nama : Selly Widyawati SIP
Tempat Tanggal Lahir : Kudus, 1 Agustus 1976
Pendidikan :- D3 Public Relation UGM Yogyakarta
- S1 Hubungan Internasional UPN Yogyakarta
Suami : Teddy Arwiyanto SE
Workshop : Jl HM Subchan ZE Gg. Jenggolo No. 3, Jenggalan, Kudus. Hp : 0818271746
Fax : (0291) 436474
Email : citraistana@yahoo.com
Harian Republika 17 Desember 2006
February 9, 2007 at 9:58 am
kudus memang bagus kok kualitasnya. cumaaa. harganya selangit.
prosesnya memang lebih rumit dari pada bordir dengan mesin juki. kalau di sidoarjo, disebut “pancal”
gimana?