Posted by csrphapros under
review Leave a Comment
Dalam mengorganisasi suatu pameran perlu dipikirkan pintu keluar masuknya pengunjung, terbukti dengan pameran Inacraf yang baru saja dilaksanakan di Balai Sidang Jakarta, JCC.Kecuali ruang Cendrawasih ,semua ruangan yg ada di JCC dijadikan ruang pameran,besar sekali area pamerannya.Bermasalah.
Kami membawa 5 mitra binaan, Nining Colection, Lia Galery, Setara dan Nadira Collection serta Defada, ikut serta pameran. Pameran dari tanggal 19 April s/d 23 April, dua hari terakhir saja yang ramai oleh pengunjung.Hari pertama sampai hari ketiga sepi.Dua hari terakhir ramai karena kami bersama dengan BUMN yang lain mengultimatum pihak panitia, kalau lokasi assembly masih saja sepi,sore itu juga sepakat untuk tutup stand. Lokasi stand Mitra Binaan BUMN jadi satu di Assembly yang jumlahnya hampir dua ratusan.Boleh dikata hari pertama sampai ketiga cuma pada nepukin nyamuk aja (ada gak sih di JCC nyamuknya..? ). Sangat ironis jika dibanding lokasi stand Hall A atau Hall B sudah ramai sekali pengunjung sejak dibuka untuk umum, di Assembly penjaga standnya cuma pada ngantuk-ngantuk saja.Sepi.
Kekuatan tawar BUMN ampuh juga ultimatumnya,panitia penyelenggara jiper langsung tanggap.Siang itu juga ada perubahan layout pintu penjualan tiket dan masuk.Yang tadinya Assembly sebagai pintu keluar,dirubah menjadi pintu masuk.Malamnya sudah mulai banyak pengunjung ke Assembly.Dua hari terakhir baru ramai pengunjung.
Sebenarnya tahun lalu kejadian seperti itu sudah terjadi,cuma waktu itu Assembly khusus kerajinan batik saja dan mereka adalah penyewa stand individu,jadi tidak punya power untuk menekan penyelenggara.Kalau BUMN sekali pesan tempat minimal 2 stand bahkan ada yang sewa sampai 32 stand dan stand untuk BUMN lebih tinggi tarif harga sewanya.
Dengan kejadian seperti ini,akhirnya penyelenggaraan tahun 2007 Assembly tidak diperuntukan menjadi ruang pamer ,cuma sebagai tempat pembukaan saja.


